Minggu, 04 Maret 2012

Kisah Bapak Tua Penjual Tissue


Mungkin sebenarnya ini bukanlah bagian dari pengalamanku sendiri, dan aku berharap aku gak akan pernah ngalamin itu. Ini adalah kisah seorang bapak tua penjual tisuue yang selalu mangkal di halte stasiun UI. Mungkin beliau terlihat biasa saja, dan sama seperti pedagang lainnya. Beliau sama-sama menjajakkan tissue ditangan kirinya dan membawa sebuah tongkat kayu besar di tangan kanannya. Beliau juga sama mencari usaha dengan jalan yang halal, gak ada yang salah kok dengan dirinya, tapi kok aku ngebahas beliau? Jawabannya cuman satu karena aku selalu merasa salut dengan dirinya.
Jujur, aku itu orangnya gampang kasihan ngelihat anak kecil tetapi mereka sudah harus ngebanting tulang buat menuhin kehidupan mereka. Aku juga gak kalah kasihan lihat kakek-kakek ataupun nenek-nenek tetep nyari nafkah di masa senja hidup mereka. SEDANGKAN AKU??? Umurku masih sangat muda dan aku juga masih lebih kuat untuk bekerja tapi aku masih ngandalin kiriman dari orang tua buat tetep makan 3 kali sehari ataupun buat belanja hal-hal yang aku butuhin sama sekali cuma karena aku nganggap itu lucu. Dunia itu miris sekali teman-teman. Kalo ngelihat hal kaya gitu aku jadi teringat sama kedua orang tuaku dan tentunya adekku, semoga aku gak akan membuat mereka melakukan hal itu hanya untuk bertahan hidup.
Kembali ke bapak-bapak tua penjual tissue tadi, satu hal yang selalu aku perhatiin dari penampilan beliau adalah, beliau selalu memakai kemeja berwarna hijau, modelnya kaya baju tentara gitu sama celana panjang warna coklat, tanpa pernah mengganti baju. Beliau juga selalu mengenakan sepasang sendal jepit, dan selalu berjalan dengan menggunakan tongkat, mungkin karena faktor usia yang memaksanya harus bergantung dengan tongkat kayu besar itu. Dari wajahnya mungkin beliau berusia 65 tahun keatas. Rambutnya yang putih dan wajahnya yang cukup banyak kerutan menyiratkan perjalanan hidup panjangnya yang sepertinya sangat berat. Tetapi beliau selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman kepada semua orang yang dilewatinya ketika menawarkan tissue, barang yang dapat melanjutkan hidupnya. Dari kakinya pun terlihat kukunya sudah nampak panjang, yah beliau memang renta, tetapi beliau tetap semangat berusaha memenuhi semua tantangan ekonomi untuk tetap bertahan hidup.
Tissue yang dijualnya dihargai 2000 rupiah saja. Uang yang bagi aku mungkin ga seberapa tapi baginya pasti sangat berharga. Setiap ada pembeli, beliau selalu mengucapkan terimakasih. Mungkin beliau merasa orang yang membeli tidak terlalu membutuhkan tissue yang dijualnya, melainkan lebih kepada kasihan.
Sampai sekarang aku gak pernah ngajak ngomong bapak itu karena aku suka merasa gak tega ngajak beliau ngomong, selalu keinget sama orang tua, walaupun setiap lewat didepanku beliau selalu tersenyum kepadaku, mungkin beliau afal wajahku soalnya aku sering beli tissue kedia tanpa minta uang kembalian. Saat beliau tersenyum puna aku sering berlaku tidak sopan karena hanya bisa buang muka, aku takut nangis melihatnya. Jadilah aku hanya bisa melihatnya dari jauh, terkadang beliau hanya duduk di halte, tiduran karena lelah, ataupun berjalan dengan tongkat kesayangannya karena dirasa halte cukup ramai dan akan ada yang membeli tissuenya.
Satu hal yang selalu membuatku salut adalah beliau tetap berusaha di hari tuanya di sisa-sisa tenaganya beliau tetap berusaha, itulah yang meninggikan derajatnya dibandingkan seorang yang hanya sekedar menundukkan tangan meminta belas kasihan orang, walaupun hasil meminta-minta itu ternyata lebih banyak dibandingkan berjualan. Itulah bapak tua penjual tissue yang tidak kuketahui namanya, semoga beliau dapat terus mencari nafkah secara halal dengan tissue-tissuenya itu walaupun aku sendiri tidak tahu sampai kapan tissue-tissuenya itu dapat memberikan nafkah untuknya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar